Awal Mula Metode Yassir
Metode Yassir dibentuk pada tanggal 31 Mei 2020 dan disahkan pada 10 Juni 2020 melalui pengesahan Yayasan Metode Yassir Indonesia oleh Kementerian Hukum dan HAM.
Metode Yassir merupakan buah evaluasi dari Buya Irvan Widodo yang dimulai sejak pertengahan tahun 2006. Beliau memiliki kecintaan besar dalam mempelajari dan mengajarkan terjemah Al-Qur’an, serta aktif mengikuti berbagai metode pembelajaran demi menemukan pendekatan terbaik dalam dunia pendidikan.
Dalam perjalanan mengajar, banyak peserta didik mengalami kesulitan memahami terjemah Al-Qur’an. Hal ini disebabkan karena pendekatan yang digunakan adalah belajar Bahasa Arab terlebih dahulu sebelum memahami Al-Qur’an. Proses ini memang berhasil, namun seringkali meninggalkan kesan bahwa Bahasa Arab itu sulit dan membutuhkan waktu lama karena harus mempelajari nahwu, sharaf, jurumiyah, alfiyah, hingga balaghah.
Berbagai evaluasi dan pengembangan dilakukan, termasuk mengikuti pelatihan metode pembelajaran Bahasa Arab modern. Namun tetap ditemukan tantangan karena latar belakang peserta didik yang beragam dalam pemahaman Bahasa Arab.
Akhirnya Buya Irvan Widodo menyusun pembelajaran berdasarkan logika Bahasa Al-Qur’an. Bukan lagi belajar Bahasa Arab untuk memahami Al-Qur’an, tetapi belajar Bahasa Al-Qur’an untuk menguasai Bahasa Arab. Pemikiran inilah yang terus dikembangkan dan diberi nama Metode Yassir.
Terwujudnya Metode Belajar yang Cepat, Mudah, Sistematis, Terukur, dan Aplikatif berbasis Al-Qur’an di Indonesia.
Metode ini berangkat dari Al-Qur’an sebagai sumber data utama. Kata-kata, struktur kalimat, hingga pola perubahan makna digali langsung dari mushaf, bukan dari buku teks bahasa Arab modern. Dengan demikian, peserta didik sejak awal diajak berinteraksi langsung dengan ayat-ayat Allah.
Alih-alih menghafal kosakata secara lepas, Yassir mengajarkan peserta mengenali pola-pola morfologis (shorof) dan sintaksis (nahwu) yang hidup dalam teks Al-Qur’an. Dengan mengenali pola, peserta dapat memahami ratusan kata baru hanya dengan memahami satu akar kata dan perubahan bentuknya.Metode ini berangkat dari Al-Qur’an sebagai sumber data utama. Kata-kata, struktur kalimat, hingga pola perubahan makna digali langsung dari mushaf, bukan dari buku teks bahasa Arab modern. Dengan demikian, peserta didik sejak awal diajak berinteraksi langsung dengan ayat-ayat Allah.
Metode ini berangkat dari Al-Qur’an sebagai sumber data utama. Kata-kata, struktur kalimat, hingga pola perubahan makna digali langsung dari mushaf, bukan dari buku teks bahasa Arab modern. Dengan demikian, peserta didik sejak awal diajak berinteraksi langsung dengan ayat-ayat Allah.
Yassir memanfaatkan pendekatan linguistik modern dan analisis data dari seluruh isi Al-Qur’an: kata-kata paling sering muncul, struktur yang paling berulang, konteks kata kunci, dan sebagainya. Ini membuat proses belajar menjadi terfokus, efisien, dan sesuai prioritas.